Tim SIGAP Mizan Amanah Serahkan Bantuan Korban Gempa Aceh


GEMPA berkekuatan 6,2 Skala Richter yang terjadi Aceh pada tanggal 2 Juli 2013, mengakibatkan lebih dari 200 orang cedera dan ribuan bangunan serta rumah rusak. Dua gempa susulan yang masing-masing berkekuatan 5,5 dan 5,3 Skala Richter turut menambah jumlah korban dan kerusakan. Gempa susulan itu dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di Desa Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 7 Juli 2013, sebanyak 31 orang meninggal di Kabupaten Aceh Tengah, sementara tercatat 9 orang tewas di Desa Bener Meriah.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers, Minggu(7/7/2013), hingga Minggu, tercatat 40 orang meninggal. Sutopo pun mengatakan, sebanyak 63 orang luka berat masih dirawat di rumah sakit dan 2.362 orang menjalani rawat jalan.

Jumlah pengungsi mencapai 22.125 orang, dan sebanyak 15.919 rumah rusak. Gempa yang terjadi pada Selasa (2/7/2013) itu juga mengakibatkan kerusakan pada 623 bangunan fasilitas umum. BNPB merinci, sebanyak 232 desa dari 352 desa di Aceh Tengah terkena langsung dampak gempa. Di daerah tersebut, empat orang masih dinyatakan hilang. Mereka yang dirawat di rumah sakit karena luka berat mencapai 40 orang. Pengungsi sebanyak 19.870 orang tersebar di 70 titik.

Bantuan SIGAP Mizan Amanah

Dengan kondisi dan jumlah korban yang cukup besar, Tim SIGAP Mizan Amanah pun bergerak menuju Aceh. Sigap (Siaga Tanggap Bencana) adalah program bantuan bencana Mizan Amanah yang lebih fokus menangani kebutuhan anak- anak yatim dan dhuafa baik pada saat terjadi maupun pasca-bencana.

Saat bergerak ke Aceh, tim dipimpin oleh Sabar. Menurut Sabar, tim SIGAP Mizan Amanah bergerak ke Aceh pada tanggal 9 Juli 2013. Tim terdiri atas empat orang termasuk Sabar. Sebelum sampai Aceh, tim transit di Medan dan selanjutnya bergerak ke Aceh melalui jalur darat pada tanggal 10 Juli 2013. Ikut dalam rombongan tim, dua mahasiswa relawan dari Medan, juga dua dari tim pecinta alam.

Perjalanan memakan waktu tempuh sekitar sepuluh jam. Pada tanggal 11 Juli 2013, Tim sudah berada di Aceh dan bergerak menuju Desa Dalin, SIGAP (Siaga Tanggap Bencana) Anak-anak korban gempa Aceh tampak gembira, setelah tim SIGAP Mizan Amanah menghibur mereka dengan pemberian mainan dan paket alat tulis sekolah.

Tim melakukan aktivitas di sana. Aktivitas dimulai dari survey, wawancara, penyerahan bantuan awal berupa sembako dan alat tulis sekolah untuk anak-anak yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama warga. "Tim tiba di lokasi pada 15.00 WIB, kita berupaya menghibur anak-anak korban gempa yang berakhir dengan penyerahan bantuan dan buka puasa bersama dengan melibatkan sedikitnya 428 warga dan sekitar 22 orang relawan. Jadi total, 450 orang," papar Sabar.

Menurut Sabar, kedatangan tim SIGAP Mizan Amanah disambut antusias warga. Tokoh masyarakat setempat, Abdul Majid, menyatakan apresiasi yang tinggi kepada tim SIGAP Mizan Amanah. Menurutnya, sebelum terjadi gempa, desa ini memang kurang mendapat perhatian. Saat dan pascagempa, walaupun bukan desa terparah, sudah ada bantuan. Namun, tidak dalam bentuk alat tulis sekolah. Umumnya seperti mie instan, beras, dan baju bekas. Artinya, Tim SIGAP Mizan Amanah termasuk yang pertama kali memberikan bantuan dalam bentuk alat tulis sekolah.

Di Desa Dalin, Tim menyerahkan bantuan 100 paket alat tulis sekolah. Setelah Desa Dalin, keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 12 Juli 2013, Tim SIGAP Mizan Amanah bergerak ke Desa Rapak moge, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Di Desa Rapak Moge, tim mengunjungi dua dusun.

Dusun pertama pada tanggal 12 dan dusun kedua pada tanggal 13. Di kedua dusun tersebut, tim SIGAP Mizan Amanah menyerahkan bantuan berupa sembako (beras 18 karung dan lauk pauk-sarden 3 dus) serta alat tulis sekolah sebanyak 200 paket.

Tim SIGAP Mendekati Lokasi Terparah Selanjutnya, tanpa kenal lelah, dengan waktu istirahat ala kadarnya, tim kembali menyusuri lokasi-lokasi bencana mendekati lokasi terparah, yakni wilayah yang berada di kecamatan Cetol. Perjalanan ini dilakukan pada tanggal 14 Juli 2013. Saat bergerak ke kecamatan Cetol, Tim SIGAP sempat berhenti sebentar di sebuah pondok pesantren yang juga terkena imbas gempa yang mana banyak bagian bangunan yang rusak. Pondok pesantren tersebut bernama Darul Mujahaddah.

Di pondok ini, tim menyerahkan bantuan berupa uang tunai untuk perbaikan empat buah MCK yang roboh dihantam gempa. Usai memberikan bantuan kepada pemimpin pondok, tim pun melanjutkan perjalanan kembali. Tiba lokasi, tampak sekali, efek gempa yang luar biasa. warga korban gempa tinggal di area terbuka dan mendirikan tenda. Kondisi ini membuat tim SIGAP harus mendatangi tenda per tenda. Hal ini dimaksudkan agar bantuan tepat sasaran dan pas pula dari sisi kebutuhan korban gempa yang mendesak. Terkait itu, Tim SIGAP pun menyerahkan bantuan berupa uang tunai ke setiap tenda yang dikunjungi. Dengan memakan waktu beberapa jam, tim SIGAP berkeliling dari tenda ke tenda. Dan setelah dianggap cukup, tim pun bersiap meninggalkan lokasi untuk kembali.

Dari Aceh, tim bergerak terlebih dahulu ke Medan dan beberapa jam kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Bandung.


Syawal, Bulan Kemenangan


Bulan Kemenangan Ramadhan telah pergi. Syawal pun datang. Sebulan lamanya, umat Islam di seluruh dunia telah menempuh gemblengan lahir dan batin yang sangat intensif untuk menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT. Kini, umat Islam memasuki Syawal, bulan kesepuluh dalam penanggalan hijriyah. Syawal berarti peningkatan yang memiliki makna bahwasanya selepas umat Islam digembleng lahir dan batin selama Ramadhan diharapkan mereka yang menjalani dengan sungguh-sungguh gemblengan tersebut akan meraih derajat taqwa, menjadi muttaqin. Sejatinya, kualitas ibadah dan kualitas diri seseorang meningkat.

Syawal bisa menjadi awal pembuktian keberhasilan seseorang menjalani gemblengan dengan segenap ibadah Ramadhan. Bila seorang muslim atau muslimah berhasil dengan gemblengan selama Ramadhan, sudah tentu seorang muslim/muslimah bakal merasa kehidupannya menjadi lebih baik. Aktivitas atau amal shalehnya bertambah, sifat kikir lenyap atau berkurang tergantikan sikap dermawan. Umat muslim pun menjadi lebih khusyu dalam beribadah, serta merasa lebih bermanfaat bagi sesama. Paling tidak, semangat beribadah kaum muslim tidak menurun setelah Ramadhan dan konsisten atau bersikap istiqamah dalam amal yakni dengan mengerjakan amal ibadah secara berkelanjutan dan terus menerus sehingga memiliki derajat yang mulia. Hal ini telah diingatkan Allah SWT dalam Al Hujurat ayat 13: "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertakwa."

Artinya pula, umat Islam dituntut untuk menghindari penurunan amal. Fenomena ironis yang seringkali muncul dalam kondisi masyarakat kekinian adalah ‘kebiasaan lama’ yang muncul pasca-Ramadhan. Hal ini bisa disimak dari perayaan Idul Fitri yang terasa berlebihan dengan musik dan tarian,

dibukanya kembali tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup atau dibatasi jamnya. Masjid-masjid kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Umpatan, luapan emosional, ghibah, dan kemarahan kembali membudaya. Fenomena itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada umat Islam, bahwa puasa sebagiam kaum muslim yang demikian tidak berhasil lantaran tidak atau belum mampu mengantarkan seseorang meraih derajat takwa, atau mendekatinya.

Seorang ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar bahwa seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shaleh adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun. Sudi kiranya, bagi mereka untuk menyimak hadis Nabi sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan sebaikbaiknya: “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”

Sejatinya, penurunan kualitas ibadah pasca-Ramadhan juga hal yang dihindari para umat Islam di era Rasulullah SAW. Salah satunya, seperti yang pernah dicatat dalam sejarah pada Perang Khandaq juga dikenal juga sebagai Pertempuran Al Ahzab, Pertempuran Konfederasi, dan Pengepungan Madinah yang terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi. Pengepungan Madinah ini dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy Makkah dan kaum Yahudi Bani Nadir (Al Ahzab). Pengepungan Madinah dimulai pada 31 Maret, 627 H dan berakhir setelah 27 hari.

Pada peperangan ini, kaum muslimin harus bertempur melawan pasukan beragam yang merupakan gabungan dari Quraisy, Ghatafan, dan lain-lain, serta menggunakan strategi membuat parit di sekeliling Madinah untuk bertahan dan terbukti efektif, hingga pasukan Ahzab tidak bisa menyerang masuk Madinah. Penggalian parit atau khandaq ini adalah kerja keras yang luar biasa. Persatuan kaum muslimin benar-benar terasa. Begitupun keimanan mereka dan doa-doa yang khusyu' semakin mendekatkan mereka kepada Allah SWT.

Dalam peristiwa ini, beragam cerita kepahlawanan bermunculan mulai dari Nu'aim bin Mas'uda yang memecah belah pasukan Ahzab dan bani Quraidzah yang berkhianat di belakang kaum muslimin, sampai keberanian dan kecerdasan Hudzaifah Ibnul Yaman yang menerobos perkemahan pasukan Quraisy untuk mencari informasi.

Hal ini merupakan bukti peningkatan yang luar biasa pasca-Ramadhan. Allah SWT pun menolong kaum muslimin dengan menurunkan angin topas yang memporakporandakan perkemahan pasukan Quraisy. Tak hanya itu, angin pun turut memecahkan periuk-periuk dan memadamkan api mereka sehingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah.

Oleh karenanya, sejak bulan Syawal tidak sepantasnya membuat ibadah dan kualitas diri umat Islam menurun. Justru seharusnya, sesuai dengan makna Syawal, maka umat Islam harus mengalami peningkatan dengan berupaya istiqamah serta meningkatkan kualitas ibadah dan diri, di antaranya dengan puasa Syawal. Bila hal itu bisa dengan baik dijalani, umat Islam layak menyambut kemenangan sebagaimana kemenangan yang diperoleh kaum muslimin pada Perang Khandaq.

Antara Kepedulian dan Komersialisasi


Bulan Ramadhan adalah waktu yang ditunggu oleh umat Islam, karena di bulan suci ini pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bulan Ramadhan ternyata juga amat ditunggu oleh pengelola media, terutama media televisi siaran swasta nasional. Bagaimana tidak, di bulan penuh berkah ini ‘berkah’ pendapatan iklan melonjak berkali lipat. Pengelola stasiun televisi swasta nasional benar-benar ketiban rejeki nomplok di bulan yang cuma ada satu tahun sekali ini.

Seluruh stasiun televisi swasta nasional pun berlomba-lomba menayangkan acara yang bertemakan religi pada bulan Ramadhan ini. Hampir semua acara dikemas dengan atribut-atribut islami, hal ini bisa dilihat dari penampilan para pembawa acaranya yang berbusana muslim, backsound yang bernuansa Islam, set design yang berornamenkan khas Islam, hingga ‘bahan’ percakapan host pun, semua ‘berbau’ Ramadhan. Namun kita prihatin karena kebanyakan tayangan dikemas tidak sebagaimana layaknya suatu tuntunan yang ditujukan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para pemirsa muslim di bulan Ramadhan.

Tayangan televisi memang selalu berganti tiap tahunnya, tapi content-nya hanya berisi pesan-pesan dangkal yang kurang makna, tidak berbobot, bahkan terlalu banyak pesan konsumtif-nya. Memang ada beberapa acara yang dikemas baik dengan content yang pas untuk religiusitas bulan Ramadhan. Misalnya, membedah tafsir Al Qur’an, wisata religi ke berbagai masjid, dan sebagainya. Tapi itu jumlahnya tidak seberapa, dibanding dengan tayangan yang kurang berbobot tadi.

 

Tayangan Minim Mutu

Berpuasa memang membuat tubuh menjadi lemas. Akibatnya ketika sore hari setelah melakukan aktivitas, banyak anggota keluarga yang akhirnya lebih memilih untuk menyelingi kegiatan ibadah puasa dengan bersantai di depan televisi sambil menunggu bedug Maghrib tiba. Di waktu jelang adzan Maghrib ini justru biasanya terdapat program-program yang kurang berbobot secara content. Acara-acara seperti kuis dengan pertanyaan tanpa bobot, lawakan slapstick minim mutu, hingga tayangan iklan yang kadang terasa membosankan, menjadi ‘satusatunya’ tayangan yang mau tidak mau harus kita lihat setiap hari selama Ramadhan.
Asal tahu saja, di waktu jelang Maghrib inilah menjadi waktu yang paling ‘sexy’ bagi pengelola stasiun televisi. Bahkan waktu adzan Maghrib bisa ‘molor’ beberapa menit, demi memutar tayangan iklan yang pasti lebih menguntungkan secara finansial bagi stasiun televisi. Maklum, tayangan 30 detik iklan bisa bernilai puluhan juta rupiah. Itu baru satu spot iklan, bagaimana kalo 10 spot, lantas dikali dengan 30 hari. Sungguh menggiurkan bukan?
Tayangan komedi juga banyak yang harus dikoreksi di bulan Ramadhan ini. Tayangan yang tidak mendidik seperti tayangan yang berformat komedi slapstick, banyak menggunakan kata-kata kasar, makian, melecehkan kaum difable (cacat tubuh), mengejek bentuk fisik (bentuk gigi, bibir, hidung, kepala, hingga berat badan), mengeksploitasi kaum waria, serta menertawakan kemiskinan, harus dihentikan segera.

Acara musik dangdut yang menampilkan pornoaksi dengan menampilkan penyanyi dengan busana seksi dan goyangan erotis, juga harus selekasnya di-stop. Ini semua demi menjaga kesucian bulan Ramadhan dan mendidik kehidupan masyarakat agar lebih baik di masa mendatang.

 

Kepedulian dan Action Kolektif

Bagi orang dewasa boleh jadi siaran-siaran yang kurang berbobot tadi dapat diantisipasi dengan kekuatan keimanan dan ketaqwaan yang relatif jauh lebih kokoh. Namun bagaimana halnya jika siaran tersebut menjadi tontonan anak-anak yang masih labil keimanan dan ketaqwaannya? Apalagi jika acara yang ditayangkan tidak sesuai untuk anak-anak di bawah umur.
Karenanya untuk mengembalikan acara-acara televisi di bulan Ramadhan supaya selaras dengan makna dan hakikat Ramadhan, perlu pengawasan dan koordinasi bersama antara MUI (Majelis Ulama Indonesia), KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), dan LSF (Lembaga Sensor Film) guna menyaring acara-acara televisi sebelum disiarkan secara luas ke publik.
Semoga seluruh stakeholder yang berkepentingan dan mendapatkan amanah untuk mengelola sebuah institusi media yang besar, mengelola kepentingan masyarakat, dan mengelola pengharapan bangsa, dapat saling mawas diri, dan bahu-membahu untuk lebih peduli dan lebih dapat menentukan kebijakan dan action yang penting bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Dan semoga seluruh masyarakat pemirsa dan penikmat tayangan televisi, dapat lebih sadar akan pentingnya tayangan yang sehat, cerdas, mendidik dan bermutu untuk perkembangan generasi masa depan.

Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan



Ada banyak peristiwa penting yang terjadi setiap bulan. Tak terkecuali, di bulan Ramadhan. Dalam bulan ini ada beberapa peristiwa penting yang memberikan efek besar terhadap kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam di muka bumi.

1. Bulan diturunkannya Al Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an : "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)...” (QS. Al Baqarah:185).

Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat di atas, Ar Razi berkata : "Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al- Qur’an. Oleh karena itu, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Kudus. Al-Qur’an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh umat Islam di seluruh dunia.

2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya

Allah SWT menurunkan kitab-kitab-Nya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis: "Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad).

3.Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badar

Perang Badar adalah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badar dinamakan Allah dengan sebutan 'yaumul furqon' (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya : "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan,yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Anfal : 41).

Sejarah mencatat dalam perang ini, Allah SWT memenangkan kaum muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun, hal itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT.

4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah (Fathul Makkah).

Peristiwa Fathul Makkah adalah sebuah peristiwa di mana akhirnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat berhasil menguasai Mekkah dan menghancurkan berhala-berhala di sekitarnya sehingga Ka’bah kembali suci.
Peristiwa Fathul Makkah terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H. Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikit pun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan aqidah, kalimat tauhid, dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar

Allah SWT berfirman dalam Alquran : "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr:1-5).

6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan kiblat

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah:183). Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram ini pun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, di mana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum muslimin. Namun, dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan kaum Yahudi.

7. Islam Masuk ke Yaman

Nabi Muhammad mengutus Ali bin Abi Thalib dengan membawa surat beliau untuk penduduk Yaman khususnya suku Hamdan. Dalam periode satu hari, semua mereka memeluk agama Islam secara aman. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-10 Hijriyah.

8. Penyerahan Kota Taif

Kota Taif pernah mencatat sejarah ketika penduduknya mengusir Nabi Muhammad SAW saat berdakwah di sana. Setelah beliau dan umat Islam berhasil membebaskan Mekkah, kaum Bani Thaqif bersikeras tidak mau tunduk kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW dan tentara Islam lalu maju ke Taif dan mengepungnya dalam waktu lama. Akhirnya kaum Bani Thaqif datang ke Mekkah di bulan Ramadhan tahun ke-9 H, dengan menyerahkan kota Taif sebagai tanda menyerah.

Anies Baswedan : Filantropi, Salah Satu Solusi Peningkatan Mutu Pendidikan


Banyak kemajuan di bidang sumberdaya manusia yang sudah dicapai oleh bangsa Indonesia, tapi tantangan ke depan tak kalah dahsyat dan kritis. Itulah salah satu benang merah yang bisa ditarik dari paparan tokoh muda yang sangat peduli soal pendidikan Anies Rasyid Baswedan, PhD, yang belakangan dikenal sebagai motor gerakan 'Indonesia Mengajar'.

Menurut Anies, yang juga Rektor Universitas Paramadina ini, pendidikan di Indonesia sarat dengan persoalan dan tarik-menarik antara sistem dan hakikat pendidikan itu sendiri. Di samping itu, kurangnya pengajar berkualitas di daerah terpencil, komersialisasi, dan masih banyaknya anak putus sekolah juga masalah yang perlu terus dicari solusinya oleh berbagai pihak yang merasa peduli.

Anies mengatakan program beasiswa bisa menjadi salah satu solusi bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di negeri ini. Bila pemerintah belum bisa menyediakan anggaran yang memadai, hingga 20% dari budget APBN, mestinya pemerintah dapat menggalakkan perolehan dana dari swasta melalui penggalangan dana dari para filantropis swasta (private philantrophy) yang dikaitkan dengan peringanan pajak bagi mereka (tax exemption). Karena sulit dilakukan, tandas mantan ketua Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi, makanya justru harus dimulai gerakannya dengan meyakinkan berbagai mitra yang potensial khususnya dunia usaha.

Sulit kalau hanya menyediakan dana pendidikan hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Itu sebabnya negara seperti AS pun, lanjutnya, menerapkan budaya filantropis itu untuk memajukan human capital-nya.

"Berkat usaha itu, dari tahun ke tahun, jumlah dana yang berhasil diperoleh dari kocek swasta di AS terus meningkat. Jika pada tahun 90-an, sekitar 5% hingga 20% anggaran universitas negeri dan swasta diperoleh dari sumbangan filantropi swasta, maka pada 2005 donasi yang diperoleh dari sektor privat itu meningkat hingga mencapai 10-30%. Pada 2006, jumlah donasi dari masyarakat swasta mencapai US$ 295 miliar," terang Anies.

Program filantropi ini, kata pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, mengingatkan tentang perlunya menghindari budaya komersialisasi pendidikan oleh pihak manapun. Guna mencegah hal itu, tentu saja harus ada alternatif bagi lembaga pendidikan agar tidak tergantung pada uang sekolah ataupun universitas yang ditarik dari murid atau mahasiswa yang mendaftar.

"Jika uang sekolah menjadi satu-satunya sumber pendapatan, maka lembaga pendidikan menjadi sulit menghindarkan diri dari 'komersialisasi' pendidikan," ujar pria yang sempat masuk dalam 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy terbitan Amerika Serikat pada tahun 2008.

Dengan demikian, kata dia, dari banyak alternatif salah satunya adalah kerja sama antara lembaga pendidikan dan komunitas bisnis, baik melalui program beasiswa (fellowship) ataupun riset bersama (jointresearch) merupakan jawabannya

 

Beasiswa : Idealisme Yang Besar

Jika kalah dari profesional asing secara sistematis dan kolektif, saya khawatir akan muncul anak-anak muda frustrasi dan marah. Ini karena pendidikan dan persiapan yang dimiliki sekarang ini tidak didesain untuk membuat mereka menang dan dominan di masa depan. Anies Baswedan.!
Dalam soal beasiswa ini, Anies tak hanya berwacana. Universitas Paramadina telah memilih anak berprestasi dari seluruh Indonesia. Persyaratannya tidak harus miskin. Banyak anak yang berpotensi, tapi tidak mampu. Besarnya beasiswa untuk masa kuliah empat tahun adalah Rp.65 juta untuk yang dari Jakarta dan Rp.100 juta untuk mahasiswa dari luar Jakarta.

Seleksinya ketat karena kami hanya menerima yang terbaik. Ini sebuah ikhtiar untuk meringankan beban anak-anak yang potensial. Meminjam istilah Cak Nur (Almarhum Nurcholish Madjid, pendiri Paramadina—Red), yaitu tempat persemaian manusia baru, maka di sini kami ingin manusia baru yang potensial.

Dia menekankan hal itu mengingat dampaknya di masa depan. "Coba bayangkan, siapa kompetitor atau lawan anak-anak muda ini yang sekarang masih SMA 10-15 tahun ke depan dan yang kuliah di Paramadina, UI, UGM, ataupun Trisakti? Bukan sesama universitas itu. Kompetitor mereka orang Indonesia yang lulusan Melbourne, Sydney, Tokyo, San Fransisco, LA, dan New York. Bukan orang asing, tapi anak muda Indonesia yang sekolah di luar negeri," ungkap Anies.

Menurut Anies, mereka itu minimal punya empat hal. Pertama, ilmu pengetahuan yang lebih baru; kedua, keterampilan bahasa sementara pemimpin mahasiswa di tempat kita kalau ditanya dengan bahasa asing langsung tumbang; ketiga, kekuatan networking internasional yang mahal sekali nilainya. Keempat, mereka yang sekolah di luar negeri tentu saja punya capital.

"Perpaduan dari keempat hal itu, mereka punya confidence yang luar biasa dalam menyongsong masa depan. Nah, mereka akan berbondong-bondong pulang ke Indonesia dan ketika mereka pulang bisa mendominasi. Kalau sekarang kita melihat Ikatan Alumni UI dan Ikatan Alumni Gadjah Mada sebagai ciri lulusan dominan, ke depan kita akan saksikan ikatan alumni mahasiswa Jepang, ikatan alumni mahasiswa Amerika, dan lainnya yang mendominasi," sambung Anies.

Anies menerangkan lebih lanjut, bahwa pada sisi lain, ASEAN Free Trade Area akan aktif lebih awal dari jadwalnya. Konsekuensinya ada pergerakan tenaga kerja asing ke dalam negeri. Tengok saja sekarang stasiun pompa bensin asing seperti Shell dan Petronas sudah masuk di manamana. Kita diuntungkan karena kemudian Pertamina menaikkan kualitas. Tapi, nanti ketika kompetisinya di tingkat individual, bukan korporasi. Jika kalah dari profesional asing secara sistematis dan kolektif, saya khawatir akan muncul anak-anak muda frustrasi dan marah. Ini karena pendidikan dan persiapan yang dimiliki sekarang ini tidak didesain untuk membuat mereka menang dan dominan di masa depan. Jadi, lanjutnya, gagasan memberi beasiswa itu bagian dari sebuah desain atau idealisme yang besar.

"Saya bersyukur sekali sekarang ada di dunia pendidikan tinggi. Saya merasa ini sebuah tanggung jawab, bukan berbicara tentang satu dua individu mahasiswa, tapi satu lapis generasi untuk mengantisipasi dan mengatasi masa depan lebih baik, supaya kita menjadi pemenang dan tuan rumah di negeri sendiri. Bagi saya, pendidikan tinggi punya posisi strategis yaitu sebagai cara untuk melakukan mobilitas sosial-ekonomi secara vertikal," pungkas Anies.

Sepanjang 2013, Mizan Amanah Target Santuni 25.000 Anak Yatim


JAKARTA, KOMPAS.com — Yayasan Mizan Amanah memiliki target menyantuni 25.000 anak yatim di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2013 ini. Target ini, kata Direktur Mizan Amanah, Andrianto, adalah bagian dari komitmen yayasan yang sudah berusia 18 tahun ini untuk membantu kaum tak berpunya.

"Kami menargetkan 25 ribu anak yatim bisa disantuni, baik yang telah dibina di asrama maupun luar asrama," kata Andrianto di Asrama Yatim Mizan Amanah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (4/7/2013).

Selain memberi santunan, Andrianto melanjutkan, Mizan Amanah memiliki empat program besar gerakan aksi yang akan dikembangkan untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

"Yang pertama adalah program generasi hebat, yaitu program peduli pendidikan untuk anak yatim dan dhuafa yang berprestasi," papar Andrianto.

Program kedua adalah program generasi berdaya yang difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat tak mampu.

"Termasuk dalam program ini adalah program Pahlawan Yatim, Ibunda Yatim, Dhuafa Bangkit, dan Komunitas Kampung Barokah," tambah dia.

Ketiga adalah program Generasi Sehat yang fokus untuk meningkatkan layanan kesehatan serta program generasi peradaban yang fokus dalam pengembangan sumber daya manusia.

"Keempat program besar itu diharapkan bisa membantu anak-anak yatim dan dhuafa mewujudkan impian masa depan mereka," ujar Andrianto.

Marhaban Ya Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dinantikan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Bulan yang menjadi simbol ketaqwaan dan kancah untuk berlombalomba dalam kebaikan. Bulan yang diistimewakan dengan diwajibkannya ibadah puasa; menahan lapar dan dahaga demi menggapai cinta dan ridha-Nya. Tak heran, tatkala bulan ini tiba, lantunan ‘marhaban’ pun diungkapkan. Ramadhan saatnya memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. It’s time to recharge yourself.
Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (Selamat Datang Ramadhan) dapat diartikan bahwa umat Islam menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

Rasulullah SAW pun senantiasa menyambut gembira setiap Ramadhan datang. Hal ini terungkap dalam sabda beliau: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah telah mewajibkan atas kamu berpuasa. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan.” (HR. Ahmad)

Tentunya, dengan kedatangan Ramadhan, umat Islam tidak sekedar mengucapkan selamat datang. Lebih dari itu, umat Islam pun mengharapkan agar jiwa raganya diasah dan diasuh untuk melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT. Perjalanan menuju Allah SWT itu dilukiskan oleh para ulama sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tantangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya.

Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di dalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.


Ramadhan Bulan Berkah

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari -hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqoroh :185). 

Allah SWT telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu di balik kehendakNya itu. Allah SWT mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu di balik itu. Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya'ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya: “Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath-Thabrani).

Sejatinya, Ramadhan sebagai bulan berkah lantaran di bulan ini begitu banyak kebaikan yang diperoleh umat Islam yang meliputi ukhrowi dan duniawi. Di antara keberkahan tersebut adalah dengan menjalankan puasa Ramadhan.

Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, ketika itu ada yang menyeru: Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah.”

Allah SWT memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan . Keberkahan lainnya lagi adalah dalam menjalankan shalat malam (shalat tarawih). Begitu pula pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Inilah di antara keberkahan ukhrowi yang bisa diperoleh. Namun ada satu sisi kebaikan lainnya, yang mana ini tidak kalah pentingnya, yaitu bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memperbaiki diri sehingga selepas bulan Ramadhan seseorang bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga, kita semua termasuk orang-orang yang bisa dan terus memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aamiin...