6 Tips Belajar Efektif


Belajar bukan berarti kita memaksakan diri setiap waktu dan setiap detik. Metode belajar yang sering dipaksakan tidak membuahkan hasil yang maksimal. Sedangkan setiap orang memiliki cara dan metode tersendiri, bagaimana cara belajar mereka agar bisa terus memahami apa yang mereka pelajari.
Belajar bisa dilakukan rutin setiap hari dengan mengambil waktu sekitar 30 menit di waktu pagi, sore atau malam hari. Dengan sistem mengulang suatu pelajaran, kita akan paham dengan sendirinya. Berbeda dengan menghafal, mugkin kita akan hafal 1-2 hari saja, lalu hilang.
Untuk mencoba belajar yang efektif, tidaklah harus menggunakan metode paksaan. Berikut sedikit tips cara belajar yang baik dan efektif yang bisa anda lakukan :

1. Metode Mencatat
Anda pasti tahu, jika otak manusia bukan seperti otak robot? sekali terprogram A terus berjalan A. Otak manusia ada batasnya, ada kalanya manusia lupa. Oleh sebab itu, metode mencatat menjadi hal terbaik yang dapat digunakan sebagi metode belajar anda. Anda bisa menulis hal-hal yang penting saja ketika anda membaca ataupun mendengarkan apa yang guru ajarkan. Dengan metode ini, sewaktu-waktu anda bisa mengulang kembali apa yang telah guru sampaikan kepada kita.

2. Mengulang Apa Yang Telah Kita Pelajari
Belajar sekali saja tidaklah cukup untuk bisa memahami apa yang kita inginkan. Mengulang merupakan salah satu hal yang sangat bagus untuk bisa memahami apa yang kita pelajari. Cobalah untuk membaca kembali apa yang telah kita tulis dan kita pelajari sehari 1-3 kali. Hal itu pasti akan berdampak sangat bagus untuk metode belajar anda.

3. Belajar Kelompok
Ada tanggapan positif dan negatif mengenai belajar kelompok. Belajar kelompok sering dijadikan moment untuk kumpul bareng, bukan waktu untuk belajar. Namun jika hal tersebut bisa dicegah, belajar kelompok akan mempermudah anda untuk memahami apa yang anda pelajari karena bisa saling share dan bertanya bila ada yang belum paham. Ada kalanya siswa yang takut bertanya ketika sedang dikelas, namun dengan adanya belajar kelompok, setidaknya siswa tersebut berani menanyakan hal yang mungkin belum paham kepada teman2nya, begitu juga yang sudah paham. Dengan mencoba untuk menerangkan kembali kepada teman yang belum paham akan membuat apa yang kita sampaikan menjadi lebih paham.

4. Pahami bukan Menghafal
Seperti yang sebelumnya dijelaskan diatas, menghafal bukanlah metode yang baik untuk digunakan dalam metode belajar anda. Menghafal kuranglah efektif, namun apabila memang perlu untuk Sistem Kejar Semalam, hal tersebut bolehlah sesekali dilakukan dengan metode menghafal.

5. Belajar Rutin tidak perlu lama
Belajar rutin jangan diasumsikan menjadi sesuatu beban yang sangat berat. Belajar rutin tidaklah harus berjam-jam namun bisa dilakukan 30 menit di pagi hari, lalu sore hari dan malam hari. Hal seperti ini akan lebih baik daripada 3 jam belajar secara sekaligus.

6. Niat dan kesadaran untuk belajar
Ketika kita melakukan sesuatu tanpa ada niat, hal tersebut tidaklah akan berjalan dengan baik. Begitu juga dengan belajar, tanpa adanya niat dan kesadaran untuk belajar, tidaklah akan menjadi orang yang pandai selamanya. Beda ketika anda meskipun tidak pandai, namun dengan belajar rutin, anda akan lebih pintar dari orang-orang pintar di sekeliling anda.

Anies Baswedan : Filantropi, Salah Satu Solusi Peningkatan Mutu Pendidikan


Banyak kemajuan di bidang sumberdaya manusia yang sudah dicapai oleh bangsa Indonesia, tapi tantangan ke depan tak kalah dahsyat dan kritis. Itulah salah satu benang merah yang bisa ditarik dari paparan tokoh muda yang sangat peduli soal pendidikan Anies Rasyid Baswedan, PhD, yang belakangan dikenal sebagai motor gerakan 'Indonesia Mengajar'.

Menurut Anies, yang juga Rektor Universitas Paramadina ini, pendidikan di Indonesia sarat dengan persoalan dan tarik-menarik antara sistem dan hakikat pendidikan itu sendiri. Di samping itu, kurangnya pengajar berkualitas di daerah terpencil, komersialisasi, dan masih banyaknya anak putus sekolah juga masalah yang perlu terus dicari solusinya oleh berbagai pihak yang merasa peduli.

Anies mengatakan program beasiswa bisa menjadi salah satu solusi bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di negeri ini. Bila pemerintah belum bisa menyediakan anggaran yang memadai, hingga 20% dari budget APBN, mestinya pemerintah dapat menggalakkan perolehan dana dari swasta melalui penggalangan dana dari para filantropis swasta (private philantrophy) yang dikaitkan dengan peringanan pajak bagi mereka (tax exemption). Karena sulit dilakukan, tandas mantan ketua Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi, makanya justru harus dimulai gerakannya dengan meyakinkan berbagai mitra yang potensial khususnya dunia usaha.

Sulit kalau hanya menyediakan dana pendidikan hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Itu sebabnya negara seperti AS pun, lanjutnya, menerapkan budaya filantropis itu untuk memajukan human capital-nya.

"Berkat usaha itu, dari tahun ke tahun, jumlah dana yang berhasil diperoleh dari kocek swasta di AS terus meningkat. Jika pada tahun 90-an, sekitar 5% hingga 20% anggaran universitas negeri dan swasta diperoleh dari sumbangan filantropi swasta, maka pada 2005 donasi yang diperoleh dari sektor privat itu meningkat hingga mencapai 10-30%. Pada 2006, jumlah donasi dari masyarakat swasta mencapai US$ 295 miliar," terang Anies.

Program filantropi ini, kata pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, mengingatkan tentang perlunya menghindari budaya komersialisasi pendidikan oleh pihak manapun. Guna mencegah hal itu, tentu saja harus ada alternatif bagi lembaga pendidikan agar tidak tergantung pada uang sekolah ataupun universitas yang ditarik dari murid atau mahasiswa yang mendaftar.

"Jika uang sekolah menjadi satu-satunya sumber pendapatan, maka lembaga pendidikan menjadi sulit menghindarkan diri dari 'komersialisasi' pendidikan," ujar pria yang sempat masuk dalam 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy terbitan Amerika Serikat pada tahun 2008.

Dengan demikian, kata dia, dari banyak alternatif salah satunya adalah kerja sama antara lembaga pendidikan dan komunitas bisnis, baik melalui program beasiswa (fellowship) ataupun riset bersama (jointresearch) merupakan jawabannya

 

Beasiswa : Idealisme Yang Besar

Jika kalah dari profesional asing secara sistematis dan kolektif, saya khawatir akan muncul anak-anak muda frustrasi dan marah. Ini karena pendidikan dan persiapan yang dimiliki sekarang ini tidak didesain untuk membuat mereka menang dan dominan di masa depan. Anies Baswedan.!
Dalam soal beasiswa ini, Anies tak hanya berwacana. Universitas Paramadina telah memilih anak berprestasi dari seluruh Indonesia. Persyaratannya tidak harus miskin. Banyak anak yang berpotensi, tapi tidak mampu. Besarnya beasiswa untuk masa kuliah empat tahun adalah Rp.65 juta untuk yang dari Jakarta dan Rp.100 juta untuk mahasiswa dari luar Jakarta.

Seleksinya ketat karena kami hanya menerima yang terbaik. Ini sebuah ikhtiar untuk meringankan beban anak-anak yang potensial. Meminjam istilah Cak Nur (Almarhum Nurcholish Madjid, pendiri Paramadina—Red), yaitu tempat persemaian manusia baru, maka di sini kami ingin manusia baru yang potensial.

Dia menekankan hal itu mengingat dampaknya di masa depan. "Coba bayangkan, siapa kompetitor atau lawan anak-anak muda ini yang sekarang masih SMA 10-15 tahun ke depan dan yang kuliah di Paramadina, UI, UGM, ataupun Trisakti? Bukan sesama universitas itu. Kompetitor mereka orang Indonesia yang lulusan Melbourne, Sydney, Tokyo, San Fransisco, LA, dan New York. Bukan orang asing, tapi anak muda Indonesia yang sekolah di luar negeri," ungkap Anies.

Menurut Anies, mereka itu minimal punya empat hal. Pertama, ilmu pengetahuan yang lebih baru; kedua, keterampilan bahasa sementara pemimpin mahasiswa di tempat kita kalau ditanya dengan bahasa asing langsung tumbang; ketiga, kekuatan networking internasional yang mahal sekali nilainya. Keempat, mereka yang sekolah di luar negeri tentu saja punya capital.

"Perpaduan dari keempat hal itu, mereka punya confidence yang luar biasa dalam menyongsong masa depan. Nah, mereka akan berbondong-bondong pulang ke Indonesia dan ketika mereka pulang bisa mendominasi. Kalau sekarang kita melihat Ikatan Alumni UI dan Ikatan Alumni Gadjah Mada sebagai ciri lulusan dominan, ke depan kita akan saksikan ikatan alumni mahasiswa Jepang, ikatan alumni mahasiswa Amerika, dan lainnya yang mendominasi," sambung Anies.

Anies menerangkan lebih lanjut, bahwa pada sisi lain, ASEAN Free Trade Area akan aktif lebih awal dari jadwalnya. Konsekuensinya ada pergerakan tenaga kerja asing ke dalam negeri. Tengok saja sekarang stasiun pompa bensin asing seperti Shell dan Petronas sudah masuk di manamana. Kita diuntungkan karena kemudian Pertamina menaikkan kualitas. Tapi, nanti ketika kompetisinya di tingkat individual, bukan korporasi. Jika kalah dari profesional asing secara sistematis dan kolektif, saya khawatir akan muncul anak-anak muda frustrasi dan marah. Ini karena pendidikan dan persiapan yang dimiliki sekarang ini tidak didesain untuk membuat mereka menang dan dominan di masa depan. Jadi, lanjutnya, gagasan memberi beasiswa itu bagian dari sebuah desain atau idealisme yang besar.

"Saya bersyukur sekali sekarang ada di dunia pendidikan tinggi. Saya merasa ini sebuah tanggung jawab, bukan berbicara tentang satu dua individu mahasiswa, tapi satu lapis generasi untuk mengantisipasi dan mengatasi masa depan lebih baik, supaya kita menjadi pemenang dan tuan rumah di negeri sendiri. Bagi saya, pendidikan tinggi punya posisi strategis yaitu sebagai cara untuk melakukan mobilitas sosial-ekonomi secara vertikal," pungkas Anies.

Cirebon, Pusat Penyebaran Islam di Jawa Barat


Dalam Babad Tanah Cirebon yang ditulis Pangeran Sulaiman Sulendraningrat, bahwa wilayah Cirebon merupakan wilayah yang masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Padjajaran yang dipimpin Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi. Sebelum Kerajaan Cirebon lahir, wilayah Bantaran Jati dihuni oleh tokoh arif bijaksana yang bernama Syech Nurjati, beliau lah yang mengajarkan Islam pertama kali di wilayah ujung Utara Pulau Jawa tersebut.

Syech Nurjati adalah guru dari Pangeran Cakrabuana yang merupakan anak dari Prabu Siliwangi dari istri Nyai Subang Larang. Beliau juga merupakan Ua Syarif Hidayatullah karena Pangeran Cakrabuana merupakan kakak Kandung Ibu Syarif Hidayatullah yang bernama Nyai Lara Santang atau Nyai Syarifah Mudaim.

Dalam perjalanan mencari jati diri dan sejatinya ilmu Islam Pangeran Cakrabuana dan Nyai Lara Santang bertemu dengan Ki Gedeng Alang-alang Lurah wilayah Lemah Wungkuk yang kemudian hari berubah nama menjadi Cirebon. Nama Cirebon sendiri merupakan perpaduan dari nama cai (air) dan rebon (udang kecil). Karena dahulu Cirebon merupakan penghasil terasi yang ternama dan tersohor, dan air hasil perasan terasi itulah yang dimaksud dengan cai rebon.

Setelah kedatangan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, daerah Cirebon menjadi ramai. Di sinilah titik terang penyebarkan Islam kemudian menyebarkan sayapnya sampai ke wilayang Luragung Kuningan, Raja Galuh Majalengka, Sindang Kasih, dan Wilayah Indramayu. Termasuk juga ke wilayah Tatar Pasundan dan wilayah Banten. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Selain mengendalikan kekuasaan politik sebagai penguasa kesultanan Islam Cirebon, Sunan Gunung Jati terus menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok tatar Sunda. Dalam catatan para sejarawan, daerah-daerah yang dijelajahi oleh Sunan Gunung  Jati  di antaranya Ukur Cibaliung (Kabupaten Bandung), Timbanganten (Kabupaten Garut), Pasir Luhur, Batu Layang, dan Pengadingan (wilayah Barat dan Selatan Sumedang Larang). Daerah-daerah lain yang berhasil di-Islamkan yaitu Nagari Talaga, Raja Galuh, Indramayu, Trusmi, Cangkuang dan Kuningan.

Cirebon sebagai kota yang terletak di wilayah Pantai Utara Tanah Jawa, merupakan jalur perlintasan transportasi kendaraan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Cirebon yang berjuluk Kota Udang, duhulu merupakan pusat penyebaran Islam di Jawa Barat oleh Sunan Gunung Jati. Cirebon juga terkenal memiliki keragaman budaya yang kuat bernuansa religi dan kaya akan kesenian tradisionalnya, di antaranya Tarling, Tari Topeng, Barok, Rudat, Mapag Sri, Sintren. Kesenian Cirebonan berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya dan mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Proses penyebaran Islam di Jawa Barat lebih banyak dikisahkan melalui daerah Cirebon yang dikuasai seorang raja yang juga ulama yaitu Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Karena dua  kekuasaan yang diperankannya yaitu kekuasaan politik dan agama, maka dia mendapatkan gelar Ratu Pandita. Sunan Gunung Jati yang tampil sebagai pemimpin agama dan politik, telah mengubah sistem dan struktur kenegaraan pada faham kekuasaan religius.

Menurut Suseno (1994) inti faham  kekuasaan religius adalah bahwa hakekat kekuasaan politik berasal dari alam ghaib atau  termasuk yang ilahi. Dengan begitu, manusia yang berkuasa bukan manusia biasa lagi melainkan ikut termasuk dalam alam adiduniawi. Raja merupakan medium yang menghubungkan mikrokosmos manusia dan makrokosmos Tuhan.

Sampai sekarang pun nilai-nilai budaya yang ditinggalkan oleh Sunan Gunung Jati masih bisa kita temui. Hal itu adalah bagian terpenting dari proses Islamisasi yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Peninggalan Sunan Gunung Jati di antaranya adalah Kraton Pakungwati, Sangkala Buana (alun-alun),  Mesjid Agung Sang Cipta Rasa, Tajug Jalagrahan, benda-benda pusaka yaitu terdiri dari persenjataan tradisional hingga kereta kencana.  Yang cukup menarik dari peninggalan budaya dari aktivitas Sunan Gunung Jati adalah bidang Planologi atau Tata Kota. Susunan pusat ibu kota Kerajaan Cirebon merupakan proto type awal dari karakteristik kota  di Indonesia yang bercorak Islam yang terdiri dari unsur arsitektur masjid, istana, pasar, tembok pertahan alun-alun, bangunan audiensi dan pelabuhan (Halwany Michrob, 1995: 20).

Bangunan istana yang ditinggalkan Sunan Gunung Jati mempunyai nilai budaya tinggi.  Keraton peninggalan Sunan Gunung Jati terdiri dari Dalem Agung Pakung Wati yang semasa hidup Sunan Gunung Jati dijadikan istana. Kemudian Sitinggil yang dibangun pada 1425 Masehi yang terdiri dari beberapa buah bangunan yang pada umumnya tidak berdinding, antara lain bangunan Pendawa Lima yang bertiang lima yang melambangkan lima Rukun Islam, tempat ini  merupakan tempat berkumpulnya para pengawal sultan.

Semar Kenandu, yaitu sebuah bangunan bertiang dua buah yang melambangkan Syahadat, tempat ini merupakan tempat duduk para penasehat sultan. Malang Semirang yaitu bangunan yang terletak di samping Semar Kenandu, tempat ini merupakan tempat  duduk Sultan  pada saat sultan melihat alun-alun atau ketika mengadili terdakwa yang dituntut hukuman mati. Mande Karesmen yaitu tempat yang digunakan untuk mementaskan gamelan Sekaten pada 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah dan Mande Pengiring yaitu ruangan yang digunakan  untuk para pengiring Sultan, atau digunakan sebagai tempat hakim ketika menyidangkan terdakwa (Dadan Wildan 2002: 311 ).

Peninggalan Sunan Gunung Jati lainnya yaitu Jembatan Kreteg Pengrawit. Jembatan ini bermakna bahwa orang yang masuk ke Keraton harus mempunyai tujuan yang baik sebagaimana yang dimaksud dengan Pengrawit yang dalam Bahasa Jawa berarti lembut dan penuh perasaan. Jembatan ini melintang di atas saluran air yang bernama Sepadu yang merupakan batas antara masyarakat umum dengan penghuni keraton. Selain itu terdapat Panca Ratna yang berarti jalan kesenangan. Adapun fungsi Panca Ratna adalah tempat seba pejabat desa atau kampong kepada Sultan. Kemudian Panca Niti yang terletak di samping kiri dan kanan jalan menuju Jembatan Pengrawit dan berada di depan alun-alun. Panca Niti mempunyai arti jalan atau tempat raja atau pejabat keraton. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat beristirahat pejabat keraton.

Peninggalan Sunan Gunung Jati dalam bidang arsitektur yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang mempunyai sembilan pintu masuk, hal ini sebagai perwujudan dari simbol Wali Sanga penyebar Agama Islam. Banyak warisan peninggalan budaya dari sunan Gunung Jati yang bisa dijadikan sebagai objek wisata dan aset pemerintahan Cirebon. Karena banyak beribu-ribu masyarakat Cirebon yang mengais rizki dari para wisatawan yang datang ke Cirebon untuk napak tilas perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan Islam. Sunan Gunung Jati meninggal tahun 1568 Masehi, namun karomahnya sampai saat ini masih kita rasakan. Memang idealnya seorang Waliullah ketika sudah meninggal sekalipun memberikan berkah rizki bagi yang masih hidup, apalagi ketika beliau masih hidup.

*Oleh: Wahyu Iryana (Dosen Sejarah UIN SGD Bandung)

Mencetak Generasi Baru dengan "Sekolah Ibu"


BEBERAPA waktu yang lalu berita tentang balita penderita gizi buruk mulai menyeruak kembali setelah beberapa saat tak terdengar kabarnya. Tercatat di Sragen, khususnya di kecamatan Gemolong terdapat 98 balita penderita gizi buruk. Saat diteliti, ternyata faktor utama balita gizi buruk bukan hanya karena faktor ekonomi saja. Sebagian balita gizi buruk berasal dari kalangan menengah ke atas yang sulit diajak makan.

Hal ini juga dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran orang tua terutama ibu untuk memberi asupan makanan seimbang atau istilahnya tidak ada kreativitas untuk membuat anak mau makan makanan bergizi. Kasus lain adalah masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Menurut catatan Direktorat Bina Kesehatan Ibu, rata-rata setiap tahun sekitar 165 ibu dan bayi baru lahir mengalami kematian. Angka ini terbilang cukup tinggi mengingat di seluruh dunia terjadi kematian ibu dan bayi lahir sekitar 585.000 setiap tahunnya. Penyebab langsung kematian ibu dan bayi lahir bervariasi. Mulai dari perdarahan (28%), eklamsia/keracunan kehamilan (24%), infeksi, aborsi, komplikasi, trauma obstretrik hingga lamanya proses persalinan (masing-masing 5%).

Jika sudah lahirpun, peluang tumbuh kembang anak yang belum optimal banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Pada banyak kasus, cacat bawaan seperti spina bifida (cacat tabung otak), toksoplasma dan hidrosefalus terjadi akibat kualitas nutrisi yang buruk selama hamil. Bahkan nutrisi sebelum hamil juga mempengaruhi proses kehamilan itu sendiri.

Sementara banyak sekali keluhan pasangan yang belum dikaruniai keturunan. Faktor makanan adalah salah satu di antara sekian faktor yang memengaruhinya. Nutrisi yang baik merupakan modal sekaligus kesempatan untuk sel telur maupun sel sperma serta sel-sel organ-organ lainnya untuk bekerja semaksimal mungkin dalam proses pembuahan.Lagi-lagi, perempuan dan ibu sebagai pengasuh pertama dan utama yang menjadi kambing hitam.
Usut punya usut pengaruh nutrisi juga diteliti oleh WHO tahun 2003 yang mengungkapkan bahwa kualitas nutrisi terutama pada ibu hamil memberikan pengaruh besar pada kemampuan belajar anak, kemampuan tubuh melakukan aktivitas fisik, kemampuan menghindari infeksi, kemampuan reproduksi terutama pada anak perempuan, kemampuan memiliki kesehatan yang prima saat dewasa serta produktivitas saat bekerja. Artinya pengetahuan dan kreativitas ibu sebelum hamil, saat hamil hingga persalinan membawa pengaruh besar pada cetakan generasi yang akan hidup di masa depan. Istilahnya ibu-ibu yang hidup saat ini bertanggung jawab penuh pada bagaimana baik-buruknya peradaban masa mendatang.
Tanggung jawab besar ini bukan semata milik para ibu atau calon ibu. Para ayah juga bertanggungjawab untuk menfasilitasi agar para ibu dapat menemukan kembali perannya sebagai sekolah pertama dan pondasi pendidikan utama anak-anaknya. Kehidupan yang serba cepat, emansipasi yang tidak wajar hingga globalisasi yang tinggal landas membuat kaum perempuan para calon ibu atau para ibu sendiri kehilangan jati dirinya.
Hasil pendidikan dan kehidupan materialis selama ini memberikan tujuan hidup baru bagi kaum perempuan bahwa karir, pekerjaan dan pendidikan tinggi adalah hal-hal yang harus dicapai. Sedangkan urusan domestik seperti mendidik anak sebaik-baiknya, mengurus rumah dengan sempurna hingga mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pembentukan suatu generasi mulai nutrisi, kesehatan, edukasi hingga psikologi terlampau diabaikan. Peran ibu sebagai sekolah pertama generasi baru lenyap sudah. Muncul anggapan bagi banyak orang, sudah ada sekolah yang mampu menangani semua urusan mendidik anak.

Cukup sudah anak-anak kita berorang-tuakan TV atau sekolah saja. Rasanya semua orang tua terutama ibu tidak akan rela anak-anak mereka hanya menjadi generasi terpinggirkan yang lemah. Lemah badannya, lemah prinsip hidupnya, lemah kehidupan agamanya dan lemah-lemah lainnya. Karena itulah diperlukan suatu mekanisme baru dalam masyarakat yang memberdayakan kaum perempuan untuk mengambil perannya kembali sebagai ibu sejati. Mekanisme baru tersebut berisi pembekalan, pengarahan, komunitas, diskusi dan motivasi bagi para ibu untuk mempelajari lebih dalam tentang segala seluk beluk perawatan dan pengasuhan anak-anak. Istilah mekanisme baru bisa disederhanakan dalam “sekolah ibu”.
'Sekolah ibu masa depan' berisi kelas-kelas yang mesti diambil dan dipelajari secara tuntas oleh seluruh kaum wanita baik yang belum atau sudah menikah. Sekolah ibu ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan para ibu akan berbagai pengetahuan dasar seperti kelas pra nikah, kelas hamil, kelas persalinan, kelas ASI, kelas tumbuh kembang anak 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dan seterusnya. Termasuk di dalamya dilengkapi dengan materi penting mulai dari nutrisi keluarga, psikologi anak, manajemen rumah tangga, komunikasi, keuangan keluarga, tata boga, tata busana hingga kreativitas mendidik anak.

Di Jawa Tengah khususnya wilayah Surakarta sebenarnya telah ada gebrakan baru yaitu dibukanya kelas hamil untuk menekan kematian ibu dan bayi baru lahir. Tercatat mulai Maret 2011, kelas hamil wilayah Surakarta dibuka dan diikuti oleh ibu hamil dengan usia kehamilan 2-3 bulan. Kelas hamil yang sudah terlaksana diselenggarakan oleh Puskesmas setempat dengan bidan-bidan senior sebagai pemberi materi. Dengan menggunakan metode tentor sebaya, kelas hamil diharapkan dapat menjadi ajang diskusi dan tukar pengalaman para ibu maupun calon ibu tentang segala hal yang terjadi selama kehamilan dan langkah terbaik agar kehamilan dan persalinan berjalan lancar.

Di lapangan, pelaksanaan kelas hamil tak semulus yang direncanakan. Mulai faktor minimnya peserta, fasilitator yang kaku hingga macetnya dana operasional dari Dinas Kesehatan Propinsi Jateng membuat kelas hamil berjalan hanya sebatas formalitas. Padahal melihat kurikulumnya, kelas hamil versi Surakarta ini cukup berpotensi untuk dikembangkan menjadi percontohan sekolah ibu. Tengok saja materi-materinya, mulai dari kesehatan ibu hamil, bersalin hingga nifas, KB, perawatan bayi baru lahir hingga balita, nutrisi anak, perkembangan anak hingga ASI. Namun jika pelaksanaannya hanya sebatas mengisi presensi atau menggugurkan kewajiban dari Dinas Kesehatan maka semua tak ada artinya. Perlu keseriusan berbagai pihak mulai para ibu, para bidan atau dokter sebagai fasilitator hingga dinas terkait.

Berbekal optimisme dan harapan yang besar, layak sudah kita semua mendukung segala program dasar dalam pembekalan para ibu baik melalui “Sekolah ibu”, kelas-kelas hamil maupun program-program khusus yang mungkin oleh beberapa pihak sudah mulai dilakukan. Jika semua program itu belum menyentuh keluarga kita, maka belajar mandiri adalah solusinya. Anak-anak kita tidak akan tumbuh berkembang. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi mereka akan mewarnai peradaban negeri ini dengan segala kiprah mereka. Karena itu, belajar dan terus belajar bagaimana mendidik dan mengasuh mereka dengan benar adalah satu-satunya pilihan. Bukan hanya tanggung jawab ibu, sekali lagi bukan. Para ayah sebenarnya adalah peran terpenting dalam pembentukan karakter anak-anak. Jadi para ayah dan ibu, mari kita belajar lagi tentang bagaimana mendidik anak-anak kita. Mari kita berlomba mencetak generasi terbaik negeri ini sebagai investasi masa depan kita baik di dunia dan akhirat.

Sehat Itu Murah, Sangat Murah


Dalam menjalankan aktifitas yang padat dalam keseharian kita.  Kita perlu menjaga kesehatan agar tetap sehat dan bugar jasmani maupun rohani. Karena dalam setiap aktivitas kita yang padat dan dalam keadaan sehat maka kita cenderung akan melupakan tentang menjaga kesehatan bagi rohani maupun jasmani kita. Terlalu penting dalam menjaga kesehatan kita, karena banyak orang di luar sana yang rela berkorban jutaan rupiah hanya karena menginginkan kesehatan (makanya bisa dibilang sehat itu mahal).

Dalam menghadapi pola kita yang sering lalai menjaga kesehatan, kami akan memberi solusi agar pola dalam keseharian kita menjadi pola hidup yang sehat. Aktivitas dan kegiatan tersebut termasuk dalam penerapan pola hidup sehat. Seperti :
  1. Hindari kebiasaan barang candu, hal ini yang sering kita lalaikan  dalam kehidupan karena banyak yang menganggap hal tersebut merupakan perbuatan yang keren. Seperti pecandu rokok, miras (minuman keras), narkoba, ganja, obaat penenang dan lain sebaginya. Padahal dalam kebiasaan tersebut banyak menimbulkan hal-hal yang negatif.

    Bayangkan saja jika kita kecanduan salah satu barang haram diatas. Kita akan banyak mengeluarkaan uang yang hanya ingin menikmati barang tersebut. Sama saja kita menimbun banyak penyakit dalam diri kita. Apalagi jika penyakit tersebut sudah menggerogoti tubuh kita, maka kita akan banyak mengeluarkan uang lagi yang hanya menginginkan kesehatan. Memang dalam jangka dekat-dekat belum berdampak apa-apa akan tetapi dampak itu jika kita sudah udzur atau tua.

    Dalam menggunakan barang haram tersebut pertama kita akan mendapatkan dosa besar, kedua efeknya bukan berdampak dalam diri kita saja akan tetapi orang tua, keluarga, teman, paacar, atau sekolah. Berusahalah hindari atau berhenti dalam kecanduan barang haram ini.

  2. Hindari hubungan seks di luar nikah, nafsu dalam hal ini menjadi peran utama. Karena nafsu merupakan sifaat yang dimiliki setiap orang. Tapi ingat jangan sampai hidup unutk nafsu, tapi buatlah nafsu untuk bertaahaan hidup. Seks merupakan hal yang menyenangkan baagi setiap orang. Namun alangkah terhormatnya jika kita berhubungan seks ketika sudah dalam ikatan pernikahan. Kebanyakan ngeseks memang disepelekan bagi pasangan yang sudah terbiasa melakukannya ataupun bagi orang yang mudah terangsang tanpa iman yang kuat.

  3. Makan makanan yang sehat dan sesuai aturan, makanan enak belum tentu sehat. Banyak makanan serta minuman yang berbahaya dan tidak sehat apabila dikonsumsi. Contohnya seperti penggunaan boraks dan formalin sebagai pengawet makanan dan minuman yang seharusnya digunakan untuk mengawetkan mayat/jenazah/bangkai.

    Kalau jajan jangan sembarangan. Belilah makanan dan minuman di tempat yang dapat terjamin kebersihan / higienitas makanan minuman tersebut. Hati-hati dan selalu waspada terhada apa pun yang akan kita masukkan ke dalam mulut kita karena bisa saja minuman atau makanan yang kita beli dan siap disantap tersebut telah dicampur dengan zat beracun yang berbahaya seperti arsenik, obat tidur, racun seangga, racun tikus, pengewet bukan untuk makanan dan minuman, dan lain sebagainya. Lihat pula kebersihan tempat serta pengolahan dan pemilihan bahan baku makanan / minuman.

    Jangan mudah tergoda dengan iklan di tv, radio, surat kabar, majalah, sales, dan lain sebagainya. Terkadang produsen pun berbohong demi mendapatkan keuntungan yang besar dan bekerjasama dengan oknum pemerintah agar tutup mulut.

    Makan makanan dan minuman yang bergizi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh, aktivitas serta usia kita. Makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang adalah kebiasaan yang baik. Jangan pernah lupa dengan empat sehat lima sempurna yang sering kita dengar dari dulu kala. Makan dengan asupan gizi seimbang karena apa yang kita makan akan merepresentasikan diri kita di masa yang akan datang.

  4. Menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan sekitar kita, kebersihan diri sendiri perlu diperhatikan dan dijaga dengan baik karena terkait / berkaitan erat dengan penampilan kita di masyarakat umum. kerapihan dan kebersihan badan seperti rambut, kuku, wajah, mata, telinga, kulit, mulut, gigi, tangan, kaki, dll dapat memberi efek pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Hindari bertukar peralatan mandi, bersolek, kesehatan, pakaian pribadi dengan orang lain karena mungkin dapat menularkan penyakit yang berbahaya.

    Bayangkan saja kalau ada orang sakit gigi akut bisa menyebabkan dia tidak masuk kantor berhari-hari karena rasa sakitnya yang tidak tertahankan. Orang yang memiliki penampilan serta gaya yang jorok akan dijauhi dari pergaulan sehari-hari dan akan sulit mendapat teman, pacar, jodoh, pekerjaan, kepercayaan dan lain-lain.

    Jaga kebersihan lingkungan dari sampah dan gangguan penyakit lingkungan karena lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan tubuh kita. Sampah yang menimbun dan membusuk mampu mengeluarkan bau yang tidak sedap / enak, pemandangan yang kumuh / kotor, bunyi lalat yang beterbangan, suara sumpah-serapah orang yang berada disekitarnya, dan lain sebagainya.

    Sampah juga bisa menjadi sarang penyebar penyakit seperti tikus yang menyebarkan penyekit leptospirosis melalui kencing tikus serta tipes / tipus. Nyamuk juga bisa menyebarkan bibit plasmodium yang dapat berkibat melaria dan demam berdarah pada seseorang. lalat yang menebar bakteri dan virus yang menyebabkan penyakit pencernaan seperti beri-beri, mencret, diare, dan sebagainya.

    Polusi seperti limbah sampah dan wc rumah tangga, limbah pabrik, polusi suara, dan polusi lainnya perlu diselesaikan dengan sigap dan terkoordinir dengan baik antar anggota masyarakat di suatu lingkungan agar menghasilkan hasil lingungan bersih dan nyaman yang baik.

  5. Berolahraga dan memeriksakan kesehatan ke dokter secara berkala, berolah raga secara teratur dapat memacu jantung, pernafasan dan peredaran darah menjadi lebih baik. Biasakan berolah raga setiap hari dengan kegiatan yang ringan seperti berjalan kaki, senam, fitnes, joging, bersepeda, atau melakukan olah raga penuh seperti main badminton, sepak bola, lari maraton, tenis, bola basket, dan lain sebagainya.

    Selain olah raga ada lagi yang tidak kalah pentingnya dengan olahraga yaitu periksa kesehatan berkala secara teratur ke dokter. Guna pemeriksaan kesehatan terprogram adalah agar penyakit atau kelainan yang timbul dapat terdeteksi dengan lebih cepat sehingga pengobatan pun tidak akan memakan banyak biaya, waktu dan tenaga.

  6. Hindari stress yang berlebihan dengan cara yang sehat dan halal, untuk menghindari stress diperlukan strategi untuk masing-masing individu. Carilah cara yang terbaik untuk menghilangkan stress dengan cara anda sendiri yang mudah, dapat dilakukan di mana-mana, murah meriah, sehat, halal, dan enak dilakukan. Contoh aktivitas penghilangan stres adalah seperti mendengarkan musik yang menurut pribadi enak didengar dan ngilangin beban pikiran yang ada, main video game, main musik musik, olah raga, ngobrol ama temen sobat karib, curhat, maen kartu non judi, pacaran sehat, makan, melakukan hubungan suami isteri / intim dengan pasangan yang sah, nongkrong di wc, jalan-jalan ke mall, nyanyi, main mainan anak kecil, berkebun, mancing, teriak di tempat sepi, tidur / bobo, dan lain sebagainya.

    Intinya dalam hidup anda adalah nyantai aja dengan semua problema yang ada. Buat apa susah (stres), susah itu tak ada gunanya. Emosi anda jangan sampai menjadi jahat dan menguasai diri anda, karna emosi yang tidak terkendali dan terkadang menjadi dendam, sakit hati, dan lain sebagainya yang terlihat bodoh bagi orang lain. Ada masalah / problem yang bisa bikin anda depresi cuek aja lah, kayak nggak ada kerjaan laen saja.

    Tidur yang cukup, dekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing asal tidak jahat, serta melaksanakan program pola hidup sehat dapat mencegah stres maupun depresi yang apabila sudah parah dan kronis bisa menjadi gangguan jiwa dan penyakit jiwa yang membuat anda perasa tertekan dan malu pada orang banyak. Konsultasikan dengan psikolog jika anda memiliki masalah kejiwaan atau orang lain yang anda percaya jika anda malu. Buka hati anda untuk menerima kritik, masukan dan saran dari orang lain dan rubah gaya hidup anda jika diperlukan demi kesehatan jiwa / batin anda. (disadur dari berbagai sumber)

Cegah Si Kecil Kenali Internet Sendirian


SIAPA sangka, kalau ternyata pengguna internet atau dunia maya terbesar adalah Indonesia. Disusul Amerika Serikat dan China. Sampai saat ini, Jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta orang, dimana 49,9 persen adalah perempuan dan 30 persen anak.

Di satu sisi, tentu saja, kondisi itu berakibat pada luasnya akses bagi semua pihak untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tersebut dengan mudah, murah, dan cepat.

Di sisi lain, tidak semua pengguna internet mempunyai niat yang baik dan hal itu terbukti dari data yang ada yang menggambarkan internet dipakai untuk menipu, mengiming-imingi dan akhirnya digunakan sebagai media perdagangan anak maupun remaja putri untuk tujuan eksploitasi seksual dan prostitusi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar menmberikan contoh adanya pelaku perdagangan orang yang menawarkan perempuan muda secara "online" atau dalam jaringan.

Bahkan, korbannya berjumlah di atas dua ribu orang dari beragam latar pendidikan dan profesi. Kejahatan itu, kata dia, baru terungkap setelah dua tahun beroperasi.

"Hal ini menyiratkan bahwa 'trafficking’ atau perdagangan manusia termasuk terhadap perempuan dan anak, baik secara online maupun tidak merupakan kejahatan sindikat terorganisir," katanya.
Sindikat tersebut, kata dia, melibatkan berbagai elemen kelompok yang dibangun secara rapi, profesional, tersistem. Bahkan, biasanya, antara satu kelompok dan kelompok lain tidak saling mengenal, sehingga sulit untuk dapat mendeteksi otak dari sindikat ini. Jaringan sindikat terbangun sejak dari 'akar rumput' hingga mancanegara. "Maka tidaklah mengherankan jika sulit menangkap otak atau pelaku utama serta sindikatnya," katanya.

Untuk itu, perlu adanya sinergitas dan kerjasama dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat, penegak hukum, pemerintah, swasta dan lembaga legislatif dan organisasi internasional serta pemerintah di kawasan regional maupun mancanegara. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat bahwa 66 persen dari 1.625 siswa SD kelas empat hingga enak di wilayah Jabodetabek telah menyaksikan konten pornografi melalui jaringan online.

Para siswa SD ini telah menyaksikan materi pornografi online, dengan rincian 24 persen melalui komik, 18 persen melalui permainan atau “games” online, 16 persen melalui situs porno dan 14 persen melalui film serta telepon selular.

Ironisnya anak-anak dapat bebas mengakses materi pornografi online karena rendahnya pengawasaan orang tua dan masyarakat. Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Jangan Bugil Depan Kamera (GJBDK) yang melakukan wawancara pada ribuan orang tua di 28 provinsi menunjukan, hanya 10 persenorang tua yang paham pemakaian internet dan peralatan games online yang mereka berikan kepada anaknya.

Survey yang dilakukan pada 2007 ini menunjukkan juga bahwa rata-rata pengakses materi pornografi di internet berusia 11 tahun dan 90 persen akses internet pornografi dilakukan pada saat anak sedang mengerjakan tugas sekolah atau belajar bersama.

“Walaupun data ini sudah lima tahun yang lalu, namun saya yakin keadaannya dewasa ini tidak banyak berubah mengingat secara kasat mata saja, anak-anak sekolah dasar sudah diberikan telepon selular atau sejenisnya oleh keluarga mereka dan setiap saat mereka dapat tersambung dengan dunia maya,” kata menteri.

Dia mengatakan, orang tua perlu mengawasi tingkah laku anak-anak, terutama di dalam rumah. “Berikan pemahaman dan pendampingan kepada anak apalagi remaja putri yang gemar menggunakan “facebook” dan “twitter” untuk tidak mengobral data pribadi dengan mudahnya dan jangan gampang terkena bujuk rayu kenalan baru”.

Peran Keluarga Sementara itu, Deputi Kesejahteraan Keluarga dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso mengatakan keluarga harus menjadi tempat yang nyaman bagi remaja untuk mencurahkan berbagai permasalahannya.

“Karenanya, diharapkan peran orang tua untuk mencurahkan perhatian kepada anak saat mereka menginjak masa remaja khususnya terkait dengan jejaring sosial dan internet,” katanya.

Menurut Sudibyo, masa remaja merupakan masa transisi mencari jati diri, sehingga penting peran orang tua mengarahkan remaja agar memiliki karakter yang baik.

“Harus ada komunikasi yang baik antara orang tua dan remaja,” ungkapnya.

Lebih jauh Sudibyo menguraikan, dengan terjadi banyak komunikasi antarkeluarga, maka karakter anak akan kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan pengaruh lingkungan yang buruk. Selain keluarga, lingkungan dimana mereka tinggal dan berada termasuk lingkungan sekolah juga bisa menjadi tempat untuk pembentukan karakter seorang anak.

MICHAEL H. HART: Muhammad Mampu Meraih Sukses Agama dan Keduniaan


Muhammad is the most successful of all prophets and religious personalities.Demikian The Encyclopedia Brittanica menyebut.Pernyataan ini bukanlah tanpa sebab.Pernyataan ini semata-mata dilatari pengamatan yang panjang terhadap kiprah Nabi Muhammad SAW sepanjang hidupnya dan peninggalan beliau yang sangat mempengaruhi kehidupan umat manusia sampai saat ini.Tak heran, senada dengan itu, Michael H. Hart memposisikan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Tentunya, Michael H. Hart pun memberikan argumen atas penyataannya tersebut.Menurutnya, ada dua alasan pokok, pertama Nabi Muhammad SAW memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam.Kedua, Nabi Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi.

Fakta menunjukkan selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politik Rasulullah berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan agama Islam tapi juga dari sudut bahasa Arab-nya , sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al Quran di kalangan kaum muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, merupakan sebab yang sangat rasional mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantakan.

Hingga Nabi kita Muhammad Saw telah wafat, ajaran-ajarannya senantiasa menjiwai dada kaum muslimin.Beliaulah orang pertama dalam sejarah yang mampu melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia.Semuanya tak lepas dari dorongan kuat yang dilandasi oleh kepercayaan atas keesaan Allah SWT.

“Pilihan saya pada Muhammad untuk diletakkan di peringkat teratas dari urutan orang-orang yang berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan sebagian pembaca dan membuat orang lain bertanya-tanya. Tetapi ia adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang meraih sukses yang begitu tinggi, baik dalam bidang agama, maupun dalam bidang keduniaan,” ungkap Michael H. Hart.

Muhammad SAW Sosok Yatim Yang Sukses


Di Mekkah, tepat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi, Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari rahim  seorang ibu bernama Aminah, seorang wanita terhormat dan berbudi luhur. Saat lahir, Nabi Muhammad SAW tak didampingi sang ayah. Ayah beliau yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib yang berasal keluarga golongan bangsawan Quraisy yang sangat dihormati dan disegani wafat saat Nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan.

Tak pelak lagi, Nabi Muhammad SAW pun lahir sebagai seorang anak yatim. Beliau disusui oleh sang ibu selama tiga hari. Kemudian disusui oleh Suwaibah selama beberapa hari.Selanjutnya, disusui oleh Halimah Sa’diyah binti Abi Dzuaib selama empat tahun.Keluarga Halimah sangat menyenanginya. Mereka mengasuh dan menyayangi sang nabi saat kecil dengan penuh kasih sayang.

Ketika berumur enam tahun, Nabi Muhammad SAW diajak ibunya pergi ke kota Yasrib untuk berziarah ke makam ayahnya dan mengunjungi keluarganya yang tinggal di Yasrib. Dalam perjalanan itu, ikut pula Ummu Aiman. Di kota tersebut, ibunya memperlihatkan rumah tempat ayahnya dirawat ketika sakit sampai meninggal dunia dan memperlihatkan tempat ayahnya dimakamkan. Betapa haru hati Nabi Muhammad ketika mendengar cerita tentang ayahnya.

Nabi Muhammad bersama ibunya tinggal di kota Madinah selama satu bulan, kemudian kembali ke kota Mekkah. Sayang, dalam perjalanan pulang, Aminah sakit parah hingga wafat dan dimakamkan di desa Abwa’ yaitu desa yang terletak antara Mekah dan Madinah yang berjarak kira-kira 36 km (sebelah selatan kota Madinah). Dalam usia enam tahun beliau sudah menjadi yatim piatu. Tentunya, hal ini membuat beliau sedih dan merasa kehilangan. Betapa tidak, baru  beberapa hari   yang   lalu,  ia  mendengar  sang  Ibunda  bercerita keadaan dan rasa sedih kehilangan ayahanda semasa ia masih dalam kandungan.  Kini,  ia melihat  sendiri  di hadapannya,  ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayahandanya.

Tubuh  yang  masih  kecil  itu  kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu. kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam Al Quran pun disebutkan,  ketika  Allah mengingatkan  Nabi  akan nikmat  yang  dianugerahkan  kepadanya itu:  “Bukankah engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu Diadakan-Nya  orang  yang  akan melindungimu?  Dan  menemukan  kau  kehilangan  pedoman,  lalu ditunjukkanNya jalan itu?" (QS, 93: 6-7).

Selesai pemakaman Aminah, Ummu Aiman membawa Nabi Muhammad kecil pulang ke Mekah dan ia menyerahkannya kepada Abdul Muthalib, kakeknya. Sejak itu, beliau diasuh dan dijaga sang kakek. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Abdul Muthalib hanya diberikan kesempatan untuk mengasuh cucunya selama dua tahun dan Abdul Muthalib meninggal dalam usia 80 tahun.

Sekali lagi Nabi Muhammad kecil  dirundung kesedihan. Setelah kakeknya wafat, Nabi Muhammad SAW hidup dalam asuhan pamannya Abu Thalib.Abu Thalib adalah salah seorang paman Nabi Muhammad yang tergolong miskin dan mempunyai banyak anak.Tatkala Nabi Muhammad ada dalam asuhannya.Allah SWT memberkahinya sehingga kehidupannya berkecukupan.

Nabi Muhammad sangat dicintai Abu Thalib. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, berbakti dan baik hati,  itulah  yang lebih  menarik hati pamannya. Tak heran, bila ketika Nabi Muhammad berusia dua belas tahun, beliau diajak oleh pamannya, berdagang ke negeri Syam yang boleh dibilang sangat jauh dan medan perjalanannya sulit.

Di sana, Nabi Muhammad bertemu dengan pendeta yang bernama Bakhiro. Sang pendeta mengatakan bahwa pada pundak Nabi Muhammad ada tanda kenabian, sehingga pendeta Bakhiro tadi menyarankan agar Abu Thalib segera membawa pulang ke Mekah karena khawatir ada orang yang berbuat jahat.

Sekembali dari negeri Syam, Nabi Muhammad tinggal dan tumbuh dengan beragam pengetahuan dalam lingkungan keluarga Abu Thalib di Mekkah.

Saat Nabi Muhammad berusia dua puluh lima tahun, sang paman memanggilnya dan menyampaikan bahwasanya ada seorang wanita  pedagang  yang kaya  dan dihormati. Dia bernama Khadijah binti  Khuwailid. Dia sedang menyiapkan perdagangan untuk dibawa  ke  negeri  Syam. Sang paman pun menyampaikan keinginannya agar sang nabi ikut dalam perdagangan tersebut. Nabi pun setuju.

Dengan kejujuran dan kemampuannya  ternyata Muhammad mampu menjual barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak  menguntungkan daripada  yang dilakukan orang lain sebelumnya. Hal ini tentu saja menggembirakan Khadijah.Dalam  waktu singkat saja kegembiraan Khadijah  ini  telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia – yang sudah berusia empat puluh  tahun, dan yang sebelum itu telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy – tertarik  juga hatinya  menikahi pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Tak lama pernikahan pun terjadi.

Ketika Nabi Muhammad berusia 35 tahun, ia ikut bersama kaum Quraisy dalam perbaikan Ka'bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, beliau dapat menyelesaikan masalah tersebut dan memberikan penyelesaian yang adil. Saat itu ia dikenal di kalangan suku-suku Arab karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.

Menjelang usianya yang ke-40, beliau sering menyendiri ke Gua Hira' sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur (merenung) dan mencari ketenangan dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut yang senang bergerombol.

Dari sini, ia sering berpikir dengan mendalam, dan memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan. Pada malam hari tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 611 M), beliau pertama kali diangkat menjadi Rasul.
Diriwayatkan, Malaikat Jibril datang dan membacakan surah pertama dari Al Quran yang disampaikan kepadanya, yaitu surah Al Alaq. Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca ayat yang telah disampaikan kepadanya, tetapi ia mengelak dengan berkata ia tak bisa membaca. Jibril mengulangi tiga kali meminta agar beliau membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Jibril berkata,”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al Alaq 96: 1-5).
Dalam rentang waktu kurang lebih 23 tahun, Rasulullah menerima ayat-ayat Quran secara berangsur-angsur hingga beliau wafat di Madinah pada hari Senin bulan Rabiul Awal tahun 12 hijrah atau bertepatan dengan tanggal 6 Juni 632 Masehi saat beliau berusia 63 tahun.

Sejak beliau menjadi Rasul hingga wafat, banyak peristiwa besar terjadi dan memberikan efek besar dalam kehidupan umat manusia yang saat itu sezaman dengan beliau hingga sekarang.Salah satunya, adalah peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tahun 620 M dimana beliau menerima perintah shalat 5 waktu. Beragam peristiwa tersebut pada gilirannya menunjukkan bahwasanya Rasulullah telah mengajarkan kepada seluruh umat Islam tentang betapa beratnya menegakkan kalimat tauhid, dan Rasulullah selalu optimis terhadap janji Allah bahwa agama yang benar adalah Islam, dan kebenaran itu yang membuat Rasulullah memiki kekuatan yang luar biasa.

Keyakinan terhadap Kebenaran Hakiki yang membuat beliau mampu merobohkan tembok-tembok kemusyrikan, dan keyakinan itulah yang membawa Islam kepada kejayaan yang dampaknya terus dirasakan tak hanya bagi umat Islam, tetapi juga umat manusia.

Tak heran, bila sejumlah nama peneliti atau penulis menetapkan beliau sebagai sosok yang sukses dalam paling berpengaruh. Misalnya, Michael H. Hart, menempatkan Rasulullah dalam peringkat pertama sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah.

K. S. Ramakrishna Rao, seorang professor filosofi yang menulis dalam “Muhammad, The Prophet of Islam” mencatat sosok Muhammad sebagai sang Nabi, Muhammad sebagai sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, dan sebutan-sebutan mulia lainnya.

Tentunya, tak pernah salah apa yang selalu didengungkan para alim ulama, mengikuti apa yang disabdakan Rasulullah dan mengikuti tuntunan Al Quran, membuat kita bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik, bahkan bisa menjadi pribadi yang sukses baik di dunia maupun akhirat.

Kisah Nabi Muhammad SAW dan Anak Yatim


DIKISAHKAN, saat itu hari raya Idul Fitri telah tiba. Sejak pagi-pagi sekali, semua  orang sibuk mempersiapkan pesta menyambut Idul Fitri. Kota Madinah  dipenuhi suasana gembira. Waktu pelaksanaan shalat Id semakin dekat.

Suasana di sekitar lapangan tempat sholat Id semakin semarak dengan aroma wewangian yang melenakan dari pakaian yang melambai-lambai ditimpa riuh-rendah suara anak-anak yang tiada henti.Usai shalat Id anak-anak tampak sibuk bersalaman mengucapkan selamat Idul Fitri kepada setiap orang yang hadir di lapangan.

Ketika Rasulullah SAW hendak pulang, beliau melihat seorang bocah bertubuh kurus memakai baju compang-camping, duduk sendirian di salah satu sudut lapangan sembari melelehkan air mata. Rasulullah berjalan menghampiri anak tersebut, dengan penuh kasih sayang mengusap pundaknya dan bertanya, “Mengapa menangis, Nak?” Si anak berkata, “Tinggalkan aku sendiri! Aku sedang berdoa.”Rasulullah membelai rambut bocah itu dan dengan suara yang penuh kelembutan beliau bertanya kembali, “Katakan padaku, Nak! Apa yang terjadi padamu?” Bocah itu menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, lalu berkata, “Suatu hari ayahku pergi berjuang bersama Rasulullah SAW. Dan kemudian ia meninggal dalam perjuangannya. Ibuku sudah menikah lagi dengan orang lain.

Harta benda milikku dijarah orang.Aku hidup bersama dengan ibuku, tetapi suaminya yang baru telah mengusirku pergi.Hari ini semua anak-anak sebayaku bercanda dan menari-nari dengan mengenakan pakaian barunya, tetapi diriku? Aku tidak punya makanan yang kumakan dan tidak pula atap yang melindungiku.”
Mata Rasulullah mulai berkaca, tetapi beliau mencoba untuk tetap tersenyum sembari bertanya, “Jangan bersedih anakku! Aku juga kehilangan ayah dan ibu saat aku masih kecil.”

Si anak menengadahkan kepalanya dan menatap Rasulullah, ia segera mengenali wajah itu dan ia pun merasa sangat malu. Dengan nada penuh kasih Rasulullah melanjutkan kalimatnya dan berkata, “Jika aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu, dan Fatimah saudaramu, apakah kamu akan merasa bahagia, anakku?” Si anak mengangguk. Rasulullah pun menggandeng tangan anak malang itu dan membawanya ke rumah. Beliau memanggil Aisyah, “Terimalah anak ini sebagai anakmu.” Aisyah memandikan anak itu dengan tangannya sendiri dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Setelah memakaikan pakaian padanya, Aisyah berkata, “Sekarang pergilah Nak. Kamu bisa bermain dengan teman-temanmu, dan bila sudah kau rasa cukup, pulanglah.” Si anak kembali ke lapangan seraya menari kegirangan.

Islam, Agama Kasih Sayang


Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang.Begitu banyak ayat Al Quran dan Sunnah yang menjelaskan hal itu. Dalam Surat Al Anbiya’:107, Allah SWT berfirman: "Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam". Senada dengan itu, Rasulullah SAW pun bersabda: "Orang-orang yang penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di atas muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa yang ada di langit" (HR. Tirmidzi).

Dalam mengajarkan kasih sayang, Islam tidak cukup hanya dengan memaparkan konsep global, tetapi juga menjabarkannya secara terperinci. Misalnya, menyebutkan beragam gambaran secara detil dan menggambarkan dengan begitu jelas implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari orang terdekat, yakni anak dan istri, hingga manusia terjauh baik dari sisi kekerabatan maupun agama, Semua berhak mendapat kasih sayang sesuai dengan porsi dan aturan yang telah digariskan agama. Bahkan, kasih saying tidak cukup hanya antar-manusia,  binatang dan tumbuhan pun mendapatkan jatah kasih sayang. Mengenai kasih sayang terhadap anak, kiranya bisa disimak salah satu kisah di bawah ini.

Suatu saat Rasulullah SAW mencium (cucu beliau) Al-Hasan bin ’Ali dan saat itu ada Al-Aqra’ bin Habis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta Al-Aqra’ berkomentar, "Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium".Maka, Rasulullah SAW pun memandangnya seraya berkata, "Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi" (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk memotivasi sifat saling menyayangi sesama muslim, selain dengan menjelaskan hak dan kewajiban di antara mereka, Nabi Muhammad SAW pun membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin berkasih sayang di antara mereka. "Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwah, kasih sayang dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas  dengan ikut begadang dan merasa sakit" ( HR. Bukhari dan Muslim).

Islam pun menerangkan jalan yang seharusnya ditempuh untuk mengantarkan kepada terciptanya kasih sayang tersebut. Di antaranya, dalam sabda Nabi Muhammad SAW: "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan tentang sesuatu yang jika kalian praktekkan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian" (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA).

Dalam menebarkan kasih sayang, Islam tidak hanya berhenti dalam wilayah sesama muslim saja, tetapi juga merambah hubungan dengan non-muslim. Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah, tidaklah seorang pun dari umat ini, entah itu Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku, lalu ia mati dalam keadaan belum beriman dengan risalahku, melainkan ia akan menjadi  penghuni neraka" (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA).

Andaikan mereka enggan masuk Islam dan tidak memerangi kaum muslimin, mereka tetap berhak untuk disikapi secara lahiriah dengan  baik. "Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (Al Mumtahanah:8).

Islam pun  selain memperhatikan kasih sayang sesama manusia,juga mengajarkan kasih sayang kepada penghuni bumi lainnya, yaitu binatang dan tetumbuhan. Abdullah bin Mas’ud RA mengisahkan, suatu hari kami bepergian beserta Rasulullah SAW, di tengah perjalanan, beliau memisahkan diri untuk menunaikan hajat.

Saat itu kami melihat induk burung bersama kedua anaknya yang masih kecil.Maka kami mengambil dua anak burung itu.Induk burung pun mengepak-epakkan sayapnya gelisah. Manakala Nabi SAW datang beliau bertanya, “Siapa yang menyakiti burung ini (dengan mengambil) anaknya? Kembalikan anaknya kepada sang induk!”.Beliau juga melihat ada perkampungan sarang semut telah dibakar. Beliaupun berkata, “Siapa yang membakar ini?”. “Kami”. “Tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Penguasa api” (HR. Abu Dawud).

Tidak cukup hanya mengajarkan kasih sayang semasa hidup para hewan tersebut, bahkan Islam juga memerintahkan agar mempraktekkan kasih sayang, sampaipun di detik-detik akhir hidup para hewan tersebut, yakni manakala kita bermaksud untuk menyembelihnya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik dalam segala sesuatu. Jika kalian akan membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian akan menyembelih sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah kalian mengasah pisau kalian dan menenangkan hewan yang akan disembelihnya” (HR. Muslim).

Tentunya, banyak contoh yang bisa menggambarkan kasih saying dan itu semua pada gilirannya menggambarkan betapa ajaran Islam sangatlah menjunjung kasih sayang.•AS- dari berbagai sumber.

Mendobrak kebekuan Pembelajaran Agama Islam


Tindakan kekerasan dan mutual distrust mewabah dimana-mana. Pendidikan Islam telah kehilangan substansinya sebagai sebuah lembaga yang mengajarkan bagaimana memberdayakan akal dan pikiran. Meminjam Istilah Syed Husein Al Attas , pendidikan Islam telah kehilangan “Spirit of Inquiry”. Spirit of Inquiry yaitu hilangnya semangat membaca dan meneliti yang dulu menjadi supremasi utama dunia pendidikan Islam pada zaman klasik pertengahan.

Memudarnya kecemerlangan pendidikan Islam sesungguhnya sudah terjadi sejak ratusan tahun silam. Salah satu sebab utama layunya intelektualisme Islam adalah saat dunia pendidikan Islam terjadi dikotomi keilmuan; terbelahnya ilmu agama dengan ilmu dunia antara wahyu dan alam, serta dikotomi antara wahyu dan akal. Jauh sebelumnya, dalam sejarah kependidikan Islam telah terpola pengembangan keilmuan yang bercorak integralistik-ensiklopedik, yang dipelopori para ilmuwan seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun.

Dengan hilangnya semangat “inquiry”, kegiataan mengajar dan belajar di sekolah-sekolah/madrasah/pesantren menjadi monoton, satu arah dan kurang mampu mengembangkan metode yang melatih dan memberdayakan kemampuan belajar peserta didik. Mereka hanya terpaku pada metode “menghafal” (rote learning), menyimak dengan seksama (talaaqi), dan sangat kurang mengembangkan budaya diskusi, seminar, bedah kasus, problem solving, eksperimen, observasi, dan sebagainya. Peserta dididik menjadi kurang terampil dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan.

Pembelajaran agama Islam selama ini sangat teoritis, berbeda dengan mata pelajaran lain yang alat konkretisasinya lebih mudah, mata pelajaran agama bermaterikan sejumlah pengetahuan yang cenderung bersifat abstrak. Selain itu, pada pembelajaran agama Islam banyak sekali materi ajar yang sangat sulit untuk diperagakan atau dikonkretisasikan secara visual. Di sisi yang lain, dalam ketiadaan visualitas itu justru dituntut adanya kesiapan siswa untuk bisa menerimanya dengan baik.

Menyadari kondisi yang semacam ini, bahwa pembelajaran agama Islam rawan bercorak teori, sekurang-kurangnya teoritis, yang perlu dipahami dalam pembelajaran agama ialah bagaimana dengan kondisi semacam itu pembelajarannya bisa menjadi daya tarik bagi siswa. Sehingga diperlukan adanya upaya mengintegrasikan pendidikan Islam dengan Ilmu-ilmu Pengetahuan Alam maupun Ilmu-ilmu Sosial Kontemporer. Pembelajaran Agama Islam dapat memberikan pemahaman kepada siswa dengan eksperimen atau simulasi laboratorium. Metode pembelajaran seperti ini dapat menggugah semangat pendidikan Islam di Indonesia. Seperti halnya, Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada siswa/mahasiswa mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi yang sarat dengan muatan nilai-nilai (illahiah, insaniah, dan alamiah).

Namun, kenyataannya pendidikan agama di perguruan tinggi secara umum masih berada di “pinggiran”, kendati secara ideal mata kuliah agama berada di “pusat”. Kesan marjinalisasi mata kuliah agama dikukuhkan oleh sebagian para pimpinan perguruan tinggi yang menganggap mata kuliah agama sebagai mata kuliah pelengkap.

Nasib mata kuliah agama tidak hanya sampai di situ, akibat rasio jumlah mahasiswa yang tidak ideal dan proporsional, mahasiswa tidak dapat diperhatikan lagi. Bahkan, perkuliahan agama ditempatkan pada semester pendek yang hanya dilakukan beberapa pertemuan saja. Lebih parah lagi, ada beberapa perguruan tinggi yang justru menghilangkan perkuliahan agama.

Selain itu, materi mata kuliah agama yang ada terasa belum mampu berperan sebagai urat nadi pengembangan iptek dan pedoman perilaku keseharian, baik dalam kerja sebagai ilmuwan maupun dalam pergaulan sosial. Dengan kata lain, orientasi pendidikan agama di negeri ini memang sudah jauh dari idealisme pendidikan agama yang dapat membentuk manusia shaleh.

Dilihat dari segi metodologi, metode pembelajaran agama masih menggunakan cara-cara tradisional, normatif ahistoris, dan akontekstual. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa banyak tenaga pengajar yang kurang mampu melakukan elaborasi, inovasi, dan kreasi materi yang sebenarnya dapat didialogkan dengan konteks sosial budaya.

Tak pelak, pendekatan doktriner cukup dominan dalam proses pembelajaran agama. Doktrin agama diterima sebatas sesuatu yang harus diimani, diterima tanpa kritik, dan merupakan barang jadi yang siap pakai. Wilayah keislaman terkesan begitu sempit, seputar rukun iman dan rukun Islam ditambah dengan seperangkat aturan tata krama dalam pergaulan sehari-hari.  Padahal mata pelajaran agama termasuk pada kelompok pengembangan kepribadian yang senyatanya menjadi barometer dalam membangun watak, kepribadian, dan moral bangsa. Pendidikan agama merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam membentuk kesadaran, cara pandang, dan cara bersikap terhadap realitas.

Penulis buku ini tampak ingin merekonstruksi pendidikan agama yang selama ini masih sangat memprihatinkan baik dari segi pengertian pendidikan yang disalahartikan, orientasi, kurikulum yang terbatas pada aspek normatif dan kurang menyentuh realitas, materi dan muatan yang belum jelas, metodologi yang parsial, dan dosen yang kurang mendapatkan perhatian dari lembaga pendidikan bersangkutan.

Secara garis besar, isi buku ini dapat dikategorikan ke dalam dua bagian.  Pertama, telaah kurikulum PAI, hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman agar kegiatan pembelajaran PAI yang hendak dilakukan oleh guru diawali dengan kegiatan menelaah kurikulum. Dengan menelaah kurikulum, guru dapat memetakan korelasi antara satu  kompetensi dengan kompetensi lainnya sehingga mendapatkan gambaran yang jelas tentang tujuan program pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, serta metode pembelajaran.

Kedua, buku ini menyajikan model-model pembelajaran PAI dan penilaiannya, yaitu dengan menyuguhkan berbagai model pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang pernah diujicobakan oleh berbagai pihak dan menunjukkan respons dan hasil yang positif  terhadap peningkatan kualitas pembelajaran PAI baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun tindakan.

Buku semacam ini dapat dijadikan sebagai kawan diskusi bagi mahasiswa, guru dan pihak lain yang peduli terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan agama, terutama pada mata kuliah 'Telaah Kurikulum PAI' serta 'Belajar dan Pembelajaran PAI'.

Sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam hendaknya kita mengetahui sejauh mana pendidikan Islam itu sendiri. Tidak sedikit orang yang mengaku beragama Islam akan tetapi pengetahuan tentang pendidikan Islam sangat minim yang berakibat tindakan dan tingkah lakunya tidak layak disebut sebagai orang Islam.

Pendidikan Islam



Pendidikan Islam memiliki 3 tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta'limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan.

Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemaham-an Islam yang utuh dan me-nyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahapan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103)

Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur'an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan.  Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh.

Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur'an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.

KESINAMBUNGAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semakin banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.
Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma'dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.
Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu :
  1. Istiqomah, setiap kita harus istiqomah  terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar, QS. Hud (11) : 112, QS. Al Kahfi (18) : 28.
  2. Disiplin dalam tanggung jawab, dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Jika kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, bila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.
  3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan, setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.